Seminggu belakangan di twitter sangat ramai diskusi, obrolan juga cemoohan yang terkait dengan FPI, Lady Gaga dan gerakan-gerakan anti pluralis atau anti yang lainnya. Saat saya sedang duduk santai nonton Castle (season 4, selesai, yayyy!), seorang teman BBM saya dan bilang, “Coba cek tweet @aniesbaswedan soal #toleran”. Setelah ada waktu luang dari waktu luang (wong lagi nonton Castle), saya kemudian membaca rangkaian kicauan itu.
Saya rasa Pak Anies benar-benar mengkerangkakan diskusi soal toleransi ini pada hubungan antar manusia terutama hukum harus mengatur kehidupan bersama ini. Bukan pada unsur idelologi atau kepercayaan, tetapi pada bagaimana hal itu berakibat ke hubungan antar manusia dan apakah itu akan merusak kehidupan bersama. At least that’s what I got or I interpreted from his tweets. Tanpa bermaksud menyerah dan tidak kontribusi terhadap perubahan, maka memang cara menjawab isu toleransi ini adalah dengan kacamata sisi hukum, pelaku kekerasan, dan pelanggaran hukum. Bukan di soal ideologi. Soal ideology, panggung nya berbeda.
Hal ini terkait dengan postingan saya soal “Kenapa Saya Anti FPI”. Kalau dibaca, keinginan saya hanya satu: lepas dari ancaman dan kekerasan sebuah organisasi masyarakat yang dilegitimasi oleh negara. Dan saya tidak sepakat dengan pemikiran yang dikotomis bahwa kalau anti A maka sudah pasti B. Ada gradasi diantara A-B dan bahkan C-D-E-F-G yang mungkin memang ada.
Ada kicauan tidak sepakat dari beberapa orang soal kicauan pak Anies nomor 17 dan 18 yang tidak suka dengan pembandingan antar pena dan fisik. Well, kalau mau jujur, seringkali kita yang berada di pihak “kebebasan berekspresi” ini hanya mau bicara dengan orang-orang yang sealiran saja. Seringkali, kita melakukan “bullying tanpa sengaja” terhadap pemikiran yang berbeda dengan kita dengan melabelkan mereka dengan term yang buruk atau bercandaan yang mungkin menyakiti hati. Memang tidak ada korban fisik secara langsung dari tumpahan pena itu, tetapi rasa sakit di hati, rasa direndahkan juga dirasakan oleh pihak yang berbeda dengan kita, terutama kalau tahu kita mencemooh dia.
Apakah ini refleksi saya karena saya takut konflik? Mungkin saja. Saya memang menghindari konflik (terutama yang tidak perlu). Tetapi satu hal yang perlu kita pelajari bersama disini, termasuk para pembela HAM adalah penyelesaian isu toleransi dalam waktu dekat (jangka pendek) di Indonesia –terutama FPI dan kawan-kawan—memang harus dikerucutkan pada soal menjaga kehidupan bersama bukan di ideologi. Pilihan kata termasuk cara bercanda juga harus dibuat sesensitif mungkin diantara kita (wah, saya langsung ingat cemoohan saya pada akun seorang menteri beken di twitter). Kalau kita marah pada Ahmad Dani karena ungkapannya yang luar biasa merendahkan perempuan, maka kita juga harus sekali-sekali menengok cara kita ngomong. Kita juga perlu memasukkan agenda untuk dialog dengan pihak yang berseberangan. Saya termasuk orang yang sering mengumandangkan pentingnya dialog dengan pihak yang berseberangan. Tetapi apakah saya sendiri sering melakukan? Nggak.






