Kamu, Cerminku


cermin diri, diambil dari: sini.

Kita semua pasti ingat kejadian tawuran yang membawa korban jiwa, terutama karena terjadi di sekolah yang relatif beken di Indonesia. Beberapa minggu lalu, Kompas pernah memuat tulisan yang judulnya adalah “Buruk Muka Cermin Dibelah” yang saya lupa ditulis oleh siapa. Tapi tulisan itu sangat menginspirasi karena mengingatkan saya kembali bahwa benar, anak itu adalah peniru ulung orang tua. Terutama anak kecil.

Beberapa waktu lalu, anak terbesar saya nggak mau sekolah. Dengan wajah galak dan suara tegas, dia ngomong begini sama saya, “Pokoknya Kakak nggak mau sekolah. Titik!” Wah. Adeknya yang juga peniru ulung mengikuti, “Aku juga nggak mau sekolah. Titik. Titik.” Gaya mereka mengingatkan saya pada, DIRI SAYA SENDIRI!

Saya sering bilang sama mereka bahwa ada beberapa hal yang tidak perlu didebat seperti sikat gigi. Kalau malam hari drama tidak mau sikat gigi itu sedang berlangsung (dan sering sekali berlangsung), saya bilang, “Pokoknya harus sikat gigi, titik!”

Waduh. Karena proses sulit mau sekolah ini menjadi isu yang berkepanjangan saya dan suami jadi pusing. Puncaknya adalah saat dia tak mau sekolah saat saya tidak berada di Indonesia. Saya harus bertelponan dengan suami diakhiri dengan menangis karena sedih dia tak mau sekolah. Padahal, ya pasti semua orang tua sudah memberi yang terbaik untuk sekolah. Lalu suami bilang begini, “aku belajar dari kamu ngomong sama kakak, aku nggak pakai cara yang sama. Aku sekarang lebih banyak bicara positif,” katanya. DEG. Dia benar!

Setelah itu, saya merubah cara saya bicara dengan dia. Peraturan tetap berjalan, tetapi cara menyampaikannya lebih santai, tidak terlalu otoritatif dan lebih positif. Saya cerita soal mimpi dan cita-cita dan akibat sekolah sebelum memvonis dia salah karena tak mau sekolah. Saya juga memahi semua keluh kesahnya dan berusaha untuk ngobrol santai. Lumayan lah.

Di sebuah buku  soal parenting ditulis, anak-anak itu peniru ulung tetapi bukan interpreter handal. Seringkali yang mereka tangkap itu apa yang mereka dengar. Mereka tak paham yang abstrak-abstrak alias hanya mengikuti saja. Makanya kita dilarang ngomong sembarangan. Karena kalau kita bilang jelek, dia akan selalu merasa jelek.

Kalau saya rajin ngomong negative atau marah-marah, maka besar kemungkinan saya akan membentuk anak yang sering negative dan marah-marah.  Tak mau aaaahhh…

Dan karena menjadi orang tua itu never ending lessons, maka pelajaran bertutur kata positif itu adalah pelajaran buat orang tuanya juga. Saya masih belajar dan terus belajar. Wish me luck because I need it!

Karena anak-anak adalah peniru yang handal, maka penting untuk memberi contoh yang sesuai dengan apa yang dikatakan. Walk the Talk adalah prinsip yang harus selalu dicoba untuk dilakukan. Nggak mudah pasti, tapi mau gimana lagi!

Being a parent is a never ending lesson.  When our children made something wrong, we need to reflect that mistake back to us. Karena mereka, cermin dari diri kita. Berat ya Bo!

2 thoughts on “Kamu, Cerminku

  1. tergantung juga sih ya, memang buat menyimpulkan sesuatu setidaknya kita harus menarik banyak sampel, tapi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan psikologis tentunya adalah lingkungan, seseorang lebih banyak dapat mengadaptasi lingkungan tenpat dia tumbuh atau bergaul dalam aktualisasi diri,

    • dan orang tua, menjadi kontributor penting dalam tumbuh kembang anak karena tempat dia berkembang itu awalnya ditentukan sama orang tua –misalnya: masih terlalu kecil untuk menentukan sekolah dimana… anyway, being a parent is a challenging journey…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s