Menjaga diri dari Post Power Syndrome


pps

Beberapa hari lalu saya dengar cerita dari teman saya soal tantenya yang sakit keras setelah pensiun dari bank terkemuka di Indonesia. Masih dari teman saya, dia juga bercerita soal beberapa Tante dan Oom-nya yang dia perhatikan mengalami kemunduran kesehatan yang luar biasa setelah tidak lagi bekerja. Termasuk ayah nya sendiri. Tadi pagi, suami juga cerita kalau perilaku almarhum Ayahnya yang berubah banyak sejak tidak lagi bekerja atau pensiun.

Post power syndrome?

Bisa jadi. Saya bukan orang yang ahli soal kesehatan pikiran, tetapi saya percaya syndrome ini memang dasyat akibatnya. Termasuk di saya sendiri. Loh?

Begini ceritanya.

Sampai beberapa bulan yang lalu, saya sempat menempati posisi yang penting di kantor. Penting karena hampir semua keputusan penting bermuara di saya. Posisi itu memang hanya temporer karena memang kami sedang mencari orang yang mungkin lebih tepat. Singkat cerita, saya menyadari dari awal bahwa posisi ini memang hanya sementara.

Meninggalkan tanggung jawab yang sebegitu besar itu ternyata sulit. Sama sulitnya seperti saat memulai menjalani langsung tanpa orientasi. Tentu saja, saya mengalami masa-masa galau yang cukup lama walaupun tidak terlalu dalam. Menjelang dan saat masa galau itu, saya belajar beberapa hal, terutama bagaimana menjaga kesehatan jiwa diri sendiri dari post power syndrome.
Untungnya karena dari awal saya sudah sadar bahwa ini semua temporer. Jadi, saya sudah siap-siap. Seiring dengan berjalan waktu, saya menyadari beberapa hal penting seperti,

What defines me. Kita harus mendefinisikan dan menaratifkan (bila perlu) apa saja yang membuat kita ini ada. Sampai sekarang saya belum selesai mendefinisikan diri saya sendiri, tetapi dua hal yang saya catat yang tidak mendefinisikan saya, yaitu posisi dan materi. Sepanjang jalan itu, saya juga sedang memutuskan juga what defines me for the future seperti mendaftar potensi kesibukan dan ambisi.

Keep yourself busy. Kita harus mempersiapkan sebanyak mungkin pekerjaan yang bisa menghabiskan waktu kita setelah masa itu selesai. Di tempat saya kerja, nggak terlalu sulit cari pekerjaan dan tanggung jawab yang banyak. Jadi, lumayan lah terbantu.

Try to enjoy. Coba untuk menikmati semua proses ini. Tidak mudah memang, tapi santai saja. Karena I know what defines me, jadi semua hal yang tidak mempengaruhi apa yang menjadikan saya ada, harusnya jadi tidak masalah.

Talk about it. Tentu jangan ke semua orang, tetapi ke beberapa orang terdekat. Kalau kita menyadari dan cerita, rasanya lebih enak. Hanya hati-hati, jangan kebanyakan karena bisa terjebak ke “I was that, I was this” dan malah jadi tidak menyenangkan.

Sekarang rasanya saya sudah jauh lebih baik. Belajar dari pengalaman ini, mudah-mudahan nanti saya nanti bisa mempersiapkan diri untuk post power syndrome yang lebih heboh dampaknya: pensiun. Tapi, itu masih cukup lama…

3 thoughts on “Menjaga diri dari Post Power Syndrome

  1. Bwt gw ngapain mikirin begetoan, gw jg ngalamin but always enjoy az bo, coz yakin dweh dunia ini cm smentara and jdin smoa tugas cm amanat. selalu hadiri kajian Islam di masjid2 and ky ahmad dhani bilang hadapi ggn tenang jw n senyuman n baek2 az

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s