HIV/AIDS and the International Conference …


aids 2008

aids 2008

What have I learned from this conference? Konferensi AIDS Internasional yang sudah menghabiskan banyak sekali dana, termasuk empat hari waktu saya hanya untuk perjalanan, untuk menunggu di airport, mandi di toilet umum dan makan makanan dingin di pesawat?

Bahwa HIV/AIDS adalah epidemic yang sangat kompleks. Baik dari sisi klinis, dari sisi non klinis (stigma dan diskriminasi, cultural, hak asasi manusia, pilihan seksualitas) dan dari sisi prevention, care, support and treatment.

ladies from mexico

ladies from mexico

Informasi dan knowledge yang ada di konferensi ini overwhelming buat saya –yang background HIV/AIDS nya minim. Saya merasa perlu waktu untuk mengunyah apa yang saya dapat di konferensi ini sebelum akhirnya bisa berpengaruh pada saya secara professional. However, there are some points that struck me most, such as…

Bahwa ternyata, hanya sekitar 20% orang dari total yang terkena virus ini mengetahui statusnya. So there are around 80% people living with HIV/AIDS are wandering around, do not know their status and what should they do about themselves.

Know your epidemic! Sebelum memutuskan apa intervensi yang harus kita lakukan, please know your epidemic through a thorough evidence based research. Jangan sampai salah strategi intinya. Kita harus tahu dimana epidemic itu berada. Jangan sampai, misalnya epideminya berada di kalangan sex workers, tapi intervensi kita ke kelompok pengguna jarum suntik, karena jadinya nggak nyambung banget.

Bahwa prevention, in the end is always important and relevant. Ada banyak (atau satu/dua debat) soal penting atau tidaknya prevention. Karena dampak prevention tidak mudah untuk dihitung. Seperti sekarang ini. This epidemic has been with us since 25 years ago but the impact is still enormous. Where is prevention then? The same question I would like to ask my partners. Have you think about prevention and how it will impact the prevalence? However, semua akhirnya sepakat bahwa prevention memang selalu perlu. Dampaknya mungkin tidak akan cepat, mungkin perlu satu atau dua decade dulu, when the prevalence is stagnant atau malah menurun.

dance for life!

dance for life!

Bahwa pendekatan lembaga donor, seringkali membuat NGOs terfragmentasi, melupakan visi dan misinya, melupakan apa yang seharusnya menjadi intervensi. Kebijakan Global Fund, PEPFAR dan pendekatan dari USAID yang mendahulukan ABC (Abstinence, Be faithful and Condom) from Bush is no longer relevant. Please, Bush, know your epidemic! Betapa dana besar bisa terbuang percuma karena pendekatan yang salah?

Bahwa access to treatment and access to medicines are something we SHOULD and ABLE to fight for. Secara pribadi, saya sangat tertarik dengan isu ini., termasuk bagaimana mensiasati TRIPS and all international agreements yang menghalangi orang untuk access to treatment. Canada punya contoh yang bagus karena bisa mempergunakan kelemahan-kelemahan di TRIPS and all those international agreement untuk mendapatkan keuntungan access to treatment for its citizens.

HIV/AIDS, poverty and micro credit? Banyak contoh yang menunjukkan pentingnya kekuatan ekonomi sebagai alat untuk bargaining position perempuan dalam relasinya dengan pasangan dan kemudian mereka ke HIV/AIDS. Pertanyaannya, apakah micro credit/micro finance is the silver bullet for prevention/ fighting for HIV/AIDS? Tidak selalu walaupun ada beberapa kasus yang menunjukkan perubahan. Apakah pendekatan ini bisa di scale up itu dan memang ada perubahan perilaku setelah semua pihak diperkuat posisinya? Belum terjawab.

me and the positive lady from mexico

me and the positive lady from mexico

My burning question to this conference is, how should we, as civil society organization who has concern in responding to this epidemic juga merespon kejadian yang real dialami banyak orang seperti: harga minyak yang naik, orang yang sulit mendapatkan akses ke makanan dan harga yang melonjak tinggi dan runtutan natural disasters? Kejadian-kejadian seperti ini tentu saja membuat banyak prioritas hidup jadi berubah. Prioritas PLWHA, prioritas organisasi, prioritas individu. As one statement during the conference said, “i could not be positive on an empty stomach”. Tapi juga kalau semata mendahulukan dukungan yang cepat dan sementara (such as food aid), juga nggak bijak –baca Times edisi terbaru soal hunger in Ethiopia. Amids the harvest and all natural resources they have, many children are still having malnutrition.

How should we respond? What should we prioritize?

Banyak pertanyaan, banyak kebingungan.

Shita Laksmi, dini hari di Agustus 2008

9 thoughts on “HIV/AIDS and the International Conference …

  1. Jujur saja, saya tidak terlalu paham tentang HIV/AIDS. Tapi ngeri juga membayangkan endemi ini di masa depan dgn karut marut penanganannya. Di tingkat individu, pendekatan ABC (Abstinence, Be faithful and Condom) mungkin akan lebih banyak berdampak kalau diubah menjadi AB saja plus No Drugs. Di tingkat kebijakan, melawan HIV/AIDS dapat disinergikan dgn perang melawan kemiskinan di samping terus berupaya mengeliminir rantai penularannya. Hmm, mungkin saya salah, tetapi itulah pendapat saya. Hehehe…

  2. Eits, hati-hati Bud. HIV/AIDS bisa mengenai siapa saja, termasuk orang yang terlihat ‘biasa’ saja. Proses alam untuk mengurangi manusia layaknya nggak lewat epidemi seperti ini. Juga nggak lewat tsunami, hurricane atau tanah longsor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s